Feed on
Posts
comments

1. her hair.

2. her smile.
3. her skin.
4. the way she dressed.
5. her cracking pathetic stupid little voice.
6. i never seen anyone being such a greedy bitch!
7. if someone says she’s a good God’s daughter, i’ll choke to death.
8. the fact that she isn’t even as good looking as i do!
9. your family had once liked her.
10. yes, yes, and yes… to me she is just stooopid

sign,

me.

a moment suspended in time

they named you odd enough for me to explain

as they came and went, they left nothing but the pain

you met me that day as i was in blue..

sometimes i think i love you

then i remembered

how boys come and go

when i already said i love you

apathy

i love it when you’re breathing, it scares the heck out of me.

i love to know that we are both agree about, “you only met the best once”

i love the way you stare when i undressed, i love the sound you made!

i love your eyes, your hands, your fingers, your heartbeats, your tears..

but then i hate it when you leave.

i hate it when you turn your back and came back to her

i hate it when you met my gaze and i could see that bitterness

i hate it when i love the sickness you drew in me

i hate the way i keep writing about you, so foolishly..

The pain in my head, the sick obsession in my heart.. i just can’t take it anymore. Leave me alone. In peace. Stop haunting me… i just wanna stop to care.

untitled

simplicity is when you’re sleeping..

nakedness is your shoes, the one you kicked when you jump onto the bed…

your laugh is your polite excuse.

your tiny world is the bubble of books, swarming around you.

Dear..

I was about to rant about you. I don’t know what to say, though. Just want to say things about you. Don’t worry, it won’t be a bad one. I love you too much to say bad things on you… and I miss you so bad this space won’t be able to hold all of it. You ought to know that I did, and I still do, you can feel it from my eyes and by the way I embraced you with my glow.

I’m glowing at your side, you should have notice it.

Hey, you’re reading this! Why still checkin’ up on me when we’ve decided to move on? Why still writing about you when I’ve made up my mind? Why laughing together like nothing bad happened when you around? Thats so silly. Why holding up my hand when I decided to let go..?

Hello there, I’m ranting about you. Roaming in my head. Drowning in my dreams..

We’re not immune on this issue. We’re so weak, we’re so broken. I said I’m perfect and you are the paradox, but we forgot one thing… that we’re too perfect to be together. Too dreamy to the bones. Too beautiful to shed a tear. I let you go in a beautiful day, in the perfect night in that place of us where you said something I can’t recalled. What was you saying? You didn’t smile, I didn’t even looked back at you. I left you alone in that room, and I though that was it. I left all of it that night.

Sometimes, I missed those time so bad. Friends don’t take me seriously, and I joked around about it… it was just a happy lie. Something I would have craved so much.

So hate me because I’m perfect, yet loving you imperfectly…

once yours,

xxx

drahcir.

Just one kiss on my lips
Was all it took to seal the future
Just one look from your eyes
Was like a certain kind of torture

Once upon a time
There was a boy and there was a girl
Just one touch from your hands
Was all it took to make me falter

Forbidden love
Are we supposed to be together?
Forbidden love
Forbidden love

Forbidden love
We sealed our destiny forever
Forbidden love
Forbidden love

Just one smile on your face
Was all it took to change my fortune
Just one word from your mouth
Was all I needed to be certain

Once upon a time
There was a boy and there was a girl
Hearts that intertwine
They lived in a different kind or world

Forbidden love
Are we supposed to be together?
Forbidden love
Forbidden love

Forbidden love
We sealed our destiny forever
Forbidden love
Forbidden love

Just one kiss
Just one touch
Just one look

Forbidden love
are we supposed to be together?
Forbidden love
Forbidden love

Forbidden love
We sealed our destiny forever
Forbidden love
Forbidden love

Forbidden love
are we supposed to be together?
Forbidden love
Forbidden love

Forbidden love
We sealed our destiny forever
Forbidden love
Forbidden love

Just one kiss
Just one touch
Just one look
Just one word…

[ Madonna - Forbidden Love ]

TAI

Saya tai.

Demikian wanita yang saya yakini telah melahirkan saya ke dunia, berkata.

Mari kita kesampingkan rasa sakit hati yang terasa dan luka batin yang tertoreh saat mendengar ini, dan marilah kita lihat dari sisi lain dimana ada empat lubang pada tubuh wanita. Lubang hidung, rongga mulut, vagina, dan anus. Empat lubang utama. Biasanya anak itu keluarnya dari vagina. Sementara saya, hanyalah tai, keluar dari anusnya. Mungkinkah saya juga dimasukkan ke dalam tubuhnya melalui seks anal?

Saya ingin mengubah dunia. Maka saya adalah tai berimpian besar dengan ‘tubuh’ berlumur bau busuk hasil sekresi dan kebencian larut lamat wanita itu. Saya tai yang ingin mengubah dunia dari tai-tai lain yang tidak sadar dirinya adalah tai… Setidaknya saya tai yang tau diri.

Dari sebuah kamus besar yang saya baca, ternyata ejaan nama saya punya abjad “H”. Tahi. Artinya, sisa, ampas, buangan, kotoran hasil metabolisme manusia. Saya toh memang hasil metabolisme manusia, seorang wanita dan pria yang mempertukarkan zat pada organisme yang melibatkan proses fisika dan kimia; dimana pembentukan dan penguraian zat di dalam badan memungkinkan berlangsung dan terciptanya sebuah kehidupan.

Saya sisa dari kehidupan itu, ampas kehidupan yang keluar dari anus. Saya, tai.

Tai, tanpa abjad “H” dalam penyebutannya. Saya tai yang berpikir dan memandang tai-tai lain lalu lalang memenuhi dunia, menyesaki ruang bernafas dengan bau busuk sekresi nafsu.

Itulah alasan saya menolak mentah-mentah berhubungan seksual-metabolisme lewat anus. Salah-salah, nanti saya mengeluarkan tai alih-alih bayi.

Waktu saya kecil, saya tai yang memilih sembunyi sendiri. Tenggelam dalam guyuran kakus di otak saya yang sempit, menggedor pintu waktu yang merayap untuk saya sendiri… Rasanya sepi, sekaligus menyenangkan. Saya bahkan merasa saya tai paling berbahagia walaupun tidak seperti yang lain; saya hanyalah sisa kehidupan yang tidak diinginkan oleh wanita yang menghadirkan saya ke planet bumi. Mungkin saya harus berterima kasih, sebab bila saya menjelma dari tai jadi bayi mungil berkulit putih yang tiada bedanya dengan tai-tai lain dijalan bisa-bisa saya kaku beku dan mati. Tai kan, tidak berpikir seperti bayi. Dan tai tidak dipahami seperti mahkluk lain menghargai bayi.

Toh, saya cuma tai. Kenapa harus repot ngurusi tai?

Sebagai produk sisa, malah bisa dibilang sebagai produk gagal, seksual-metabolisme manusia yang paling rendah, ampas dari segala kotoran yang layak dikeluarkan, saya memandang dunia dari air dalam kakus otak saya. Tai yang memandang dan ingin mengubah dunia, itu saya!

Tidak banyak yang ingin dekat-dekat tai, apalagi sampai ingin mengenal lebih lanjut. Well saya tidak akan jadi seminder ini kalau saja wanita yang melahirkan saya tidak memanggil saya tai, kan? Mana ada sih, wanita yang sudah membuang-buang tenaga untuk menggenjot sesuatu keluar dari dalam tubuhnya, kemudian menyimpan….. tai?

“Apa untungnya jadi tai?”

“Orang-orang tidak akan memperhatikanmu. Kecuali kalau baumu busuk sekali dan kau tergeletak ditengah jalan, atau nempel di sepatu orang.”

“Tapi… kenapa nama saya harus tai?”

“Pernah dengar orang yang saking gregetnya ingin membalas atau melukai seseorang, tapi tidak bisa? Nah, yang dilakukannya adalah melukai lewat kata-kata. Namamu tai, itu karena alasan demikian.”

“Ah, berarti orang itu berhasil dengan baik.”

“Dan bagaimana menurutmu, tai?”

“Tidak enak… Terlalu banyak kesakitan di dunia ini…”

“Setidaknya kamu kotoran manusia. Bukan kotoran sapi, atau kotoran kerbau. Paling tidak, tai yang masih ada derajatnya.”

” . . . . . . . . . . . . . .”

“Kenapa kamu diam saja, tai? Tidak menyahut?”

“Saya tidak mau jadi tai.”

Sama halnya dengan saya tidak mau diperkosa pakai seks anal, sama halnya dengan saya tidak mau keluar tai-tai lain dari anus saya, sama halnya dengan saya tidak mau bermetabolisme secara seksual.

Dan suatu waktu saya akan meninggalkan dunia ini, mimpi yang ini, untuk menjelma jadi bentuk yang entah-apa tapi bukanlah seonggok kotoran bernama tai. Suatu waktu yang lain saya akan terbang menggapai mimpi yang lain, untuk percaya bahwa saya ini lahir sebagai sesosok bayi, dan bukannya tai….

Kenapa saya tai?

Wajah cantik itu tidak berkata-kata. Mimpi yang hancur, khayalan yang harus usai, dan cerita ini harus diakhiri… Saya ke dunia, meluncur mulus melalui vagina tapi ia jadi setengah gila. Luka dalam ingatanan karena main perasaan. Semoga pikiranmu terbuka, Wanita, dan saya berdoa semoga mimpi ini jadi lebih mudah bagimu. Saya hanyalah tai yang tersisa dari tubuhmu, bukan bagian apa-apa dalam kehidupanmu yang saya cermati dari balik layar.

Tai tidak berkata, tai tidak mendengar, tai tersembunyi.

Tidak akan ada orang yang bakal melongok ke dalam kakus dan melihat tainya sendiri dan berkata, “aku mencintaimu!” karena pasti orang itu sudah hilang akal sehat.

Saya tidak, dan saya memutuskan untuk pergi.

Saya, tai. Keluar dari anus bukannya vagina, oleh wanita yang bekerja sebagai ibu di dunia fana.

Saya tidak akan mengingat wajah cantik itu karena saya ingin melupakannya, dan persetan dengan aturanmu, bangsat! Saya, tai yang berlogika tapi hilang akal. Saya terbang melayang!

Dalam kejeniusan semu yang hanya dimengerti bukan oleh siapa-siapa… hanya milik saya sendiri.

*  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *  *

*dipersembahkan bagi mereka yang merasa dirinya jenius. *

thank_you_dewata@yahoo.com


Magnolia.

Tahukah kamu hubungan kita diawali dengan kekurangajaran, dan pada pertengahan hubungan yang aneh ini kita mulai saling menyukai?

*  *  *

Udara kamar didominasi oleh nikotin dan percampuran bau antara zat kimia minyak wangi dengan keringat. Atau mungkin juga airmata. Aku belum membereskan sebagian besar pakaian kotor yang teronggok dilantai. Keempat dinding kamar itu ditempeli potongan berita koran dan poster penyanyi goth, menyebabkan keadaan kamar semakin tampak tak karuan. Asbak yang kamu belikan sebagai hadiah ulangtahun kini tergeletak di meja rias, diam membisu seperti dirimu, dengan tumpukan puntung rontok.

Semuanya persis seperti kali terakhir kami berada diruangan ini.

Kuhisap rokokku lagi, terbatuk-batuk karena pekatnya kretek, sambil memandang bayanganku dicermin. Berapa lama aku tidur tadi malam? Apakah aku bermimpi tentangmu lagi? Apakah tidurmu nyenyak…?

Lidahku terasa asam, lengket, dan liat dalam rongga mulut. Aku ingin minum tapi tubuhku tidak beranjak dari depan cermin. Wajah disana lekat memandangku balik seolah sedang bersimpati. Hatiku masih sakit melihat tangismu…

"Mungkin tidak ada yang salah disini." ujarku.

"Tidak ada yang salah." balas bayangan dicermin. Ia tersenyum sedih padaku, senyum yang terpatri dalam ingatan sejelas kenangan akan dirimu. "Sudahkah kamu rindu padaku?"

Dingin buatan yang berasal dari pendingin udara membuat mati rasa. Semua ini mungkin tidak membuktikan apa-apa… bahwa cinta itu nihil dan matahari masih akan terbit esok hari… Adakah yang ingin kamu buktikan? Mungkin, kebalikannya? Kelak kita akan tahu, seperti lonceng yang semangat bertalu-talu, seperti senyum diwajah Edison saat menemukan lampu, dan mungkin kita akan mengatakan, "aku kangen kamu!".

Wajah yang menatapku dari cermin keliatan lebih pucat. Aku tahu ia berkata dalam hati, "Mungkin bukan malam ini." walau ia sendiri tidak mengerti, apakah ini jadi sebuah akhir? Aku tahu ia pandai bertanya dan wajahnya sangat tertebak. Aku hanya tidak paham apa yang sesungguhnya dia risaukan.. Toh dia hanya memandangiku dari cermin.

Asap rokok memenuhi udara. Mengisi paru-paru seperti tabung oksigen brand new. Kaki terasa pegal ditindih dibawah meja saat duduk bersila. Mata kian lama kian tak henti menitikkan airmata…

"Bukan malam ini." gumamku seolah menyetujui kontrak kasat mata. Kupadamkan puntung rokok di asbak yang sudah kepenuhan.

Ketika aku hendak beranjak, mataku mengerling ke cermin dan ia tengah menangis. Aku menarik nafas dan segera saja bau rokok bercampur parfum dan keringat memenuhi cuping hidung. Ia lebih cantik saat tengah menitikkan air mata, membuatku bertanya-tanya itukah alasan orang menyakitinya?

Pikiranku melayang padamu yang tak seberapa jauh, namun keadaan membuat kita bagaikan di Mars dan Pluto. Terpisah jutaan tahun cahaya, dibentengi puluhan dinding ego dan penalaran yang tak masuk logika… Aku benci memikirkanmu seperti ini. Teringat akan kebodohan kita alih-alih saat bahagia yang pernah terjadi di suatu waktu yang terasa sangat lampau.

Aku berubah pikiran dan kembali bersimpuh di depan cermin. Jam dinding menunjukkan suatu waktu dini hari. Seperti yang kutahu, matahari akan terbit dalam beberapa jam, dunia kembali bising namun aku tahu malam seperti ini tak akan pernah berakhir.

Aku bersimpuh di depan cermin, menyentuh permukaannya yang licin dan dingin. Kupejamkan mata saat kucium dia tepat dibibir. Segera saja bibirku terasa dingin begitu menyentuh permukaan cermin untuk mencium bayanganku sendiri. Tapi aku menikmatinya seribu kali lebih daripada biasanya. Bibirnya dan bibirku basah, dingin, dan licin oleh airmata…

"Mungkin bukan malam ini…" aku berbisik, bukan kepada siapa-siapa melainkan untuk diriku sendiri. "Namun masih akan ada malam-malam berikutnya."

Nafasku menjadi embun dipermukaan cermin yang tak bergerak, mataku membalas tatapan kuyu dari perempuan yang menatapku dari sana. Kami mengerjap, dia dan aku, saat sama-sama teringat akan dirimu di Pluto..

Selamat siang, pembaca. Terima kasih sekali Anda sudah berbaik hati mengarahkan kursor ke entry  saya ini. At the very fucking moment I wrote this, saya lagi bolos kuliah dan menunggu seorang teman untuk datang menemani kesendirian saya dirumah.

Sudah beberapa hari belakangan saya berlagak kayak orang gila, bagi orang yang benar-benar memperhatikan tingkah laku aneh bin ajaib saya. Tanya kenapa? Nah, agak-agaknya otak usang saya ini sedang berpikir mengenai the main problem "boyfriends" always have alias masalah utama yang selalu menghinggapi para "pacar". Dengan status jomblo yang saat ini sedang saya sandang (dengan agak-agak setengah hati kayaknya, ha ha ha), dengan bebasnya saya punya ‘banyak waktu’ untuk berpikir kembali dan kemudian mencaci-maki para "pacar".

Begini…

*terbatuk-batuk*

Sekian lama mengamati dan mengalami berbagai hal seputar "pacar", saya jadi sampai pada kesimpulan bahwa "pacar sangat menyebalkan". OK, minus adegan saat Anda butuh dipeluk/dicium dan pacar Anda dengan senang hati melakukannya. Atau, minus adegan saat Anda sedang bokek berat dan si pacar dengan senang hati selalu menyodorkan dompetnya…

Yang kita bicarakan disini adalah sifat buruk alias sindrom pacar (bukan CaCar!!!) yang selalu menghinggapi para kekasih-kekasih aneh bin ajaib (eh tapi saya nggak, lho hehehe).

+ +  SINDROM PACAR + +

penemu : saya

indikasi terjangkit :

  1. badan lemas (tapi bukan krn kurang cairan),
  2. hati klepek-klepek tiap kali ingat si dia,
  3. bibir kejang karena gak bisa berhenti nyengir,
  4. pengennya ketemu terus,
  5. berlagak penuh perhatian (untuk yang cowok : jadi sok gentle; untuk yang cewek : jadi demen mandangin benda-benda lucu  untuk dihadiahi pd si dia dan ga bs berenti cekikikan kayak kuntilanak),
  6. mulai berasa superior alias punya kontrol,
  7. ngelarang ini-itu.

obat : belum ditemukan, kecuali putus (yang bikin nangis darah?)

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Begini ya, para "pacar-pacar" yang agaknya kurang bisa saya hormati, menurut saya, elo tuh nggak punya hak apapun ngelarang-ngelarang pacar lo. Please deh, elo tuh bukan orang yang ngelahirin pacar lo. Elo juga bukan orang yang ngasih makan pacar lo (traktir nggak diitung!!). Elo CUMA orang yang bisa menikahi dia kelak, dan hingga saat itu tiba, elo bukanlah siapa-siapa yang berhak elit melarang pacar lo!!!

Pertanyaan utama : apakah salah melarang pacar berbuat ini itu?

Jawabannya : salah, kecuali kalo pacar lo bilang, "Sayang, aku boleh selingkuh nggak?" Nah kalo ngomong gitu, baru deh Anda punya hak iket pacar Anda ke tiang biar dirajam batu!!

Saya paling empet denger kata ‘larangan’, walaupun saya ini anak hukum. Dan walaupun saya juga nggak setuju dengan anggapan lama bahwa ‘larangan dibuat untuk dilanggar’, tapi untuk yang satu ini saya benar-benar nggak habis pikir. Silahkan dipikir lagi, pasti semua orang yg pernah pacaran pernah merasakan si pacar SOK BERASA PUNYA HAK untuk melarang Anda melakukan satu hal saja. Well, kecuali kalo Anda pacaran sama orang pasif yang bisanya manggut-manggut aja sih. Atau kecuali kalo Anda pacaran dengan orang dengan pengertian seluas angkasa…

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Pacar Goblok:

"Sayang (boleh diganti dengan honey, baby, sugar, dear, darling, etc), aku besok mau coba bungee jumping ya?"

"What?? Bungee jumping?? Jangan Sayang, pokoknya jangan ya!"

"Kok gitu?"

"Pokoknya jangan!!!" >>> tidak merinci kenapa ‘tidak boleh’, berlagak kayak bokap/nyokapnya aja. Sok superior, berasa kayak masih di rezim Pak Harto. Tai kucing. Lempar ke laut aja.

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Pacar Romantis :

"Sayang, aku mau pergi ke Lembang. Sama teman-teman, mau nginep lima hari."

"Aduh lama banget. Jangan deh, nanti kita berdua aja… Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." >>> berusaha mempengaruhi pikiran si pacar dengan janji-janji semanis janji Fauzi Bowo, padahal ada udang dibalik batu. Niatnya ya sama: Nggak Boleh Pergi! Cuma bedanya yang ini lebih berlagak aja. Lagak sok superhero, padahal disuruh ngejar anjing nyokap yang lari ke jalan aja ogah. Hoek hoekk! *suara org muntah*

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Pacar Sok Imut :

"Sayang, besok aku ada acara, pulangnya malam. Gak pa-pa, ya?"

"Mending jangan deh kalo pulangnya malam. Kalo ada apa-apa, gimana?? Jangan pergi, ya!"

"Tapi, Sayang………"

"Pokoknya jangan! Kalo kamu tetep pergi, aku nggak mau ngomong sama kamu!"  >>> pake ancem-anceman segala, kayak obrolan anak SD (kalo yg pacaran udah kuliah, bener-bener bikin malu, lbh bikin aib ketimbang videonya Yahya Zaini). Tipe pacar yang begini biasanya pakai efek sok serius, atau lagaknya dibuat sesakit hati mungkin. Jijay abis, lebih rendah dari banci salon yang paling rendah.

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Pacar Heboh :

"Say, aku mau dreadlock rambutku ya, kayak penyanyi raggae!"

"Hah?? Jangan, say!! Masa didreadlock sih?? Nanti rambut kamu rusak, mendingan jangan deh! Emangnya kamu penyanyi raggae apa? Kayaknya fans Jimi Hendrix pun bukan deh! Ngapain sih pake kayak gitu-gitu segala???" >>> langsung ngomel/bacot/cingcong tanpa sebab yang jelas, dan biasanya selalu diakhiri dengan kalimat yang menyakitkan hati. Terus si pacar pas lagi heboh ngelarang, mimiknya disetel serius banget, kalo perlu bahkan sampe monyong-monyong segala, kayak gurita minta digampar.

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Pacar Intelek :

"Aku mau ikut gym ah, biar badan bagus kayak Agnes Monica!"

"Menurut aku, kamu udah cantik dan bagus apa adanya (jadi gak perlu deh ke gym segala, buang-buang duit dan waktu untuk aku)." >>> tidak langsung melarang terang-terangan tetapi menyelipkan larangan tersebut lewat tatapan menggoda dan senyum simpul yang melelehkan hati (hanya saja, klo kadarnya kelebihan kayak nantangin)

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Pacar Sotoy :

"Say, aku mau piercing udel bulan depan."

"Gak usah deh, nanti udel kamu berbekas lho. Atau kena aids lho! Terus gmn anggapan orang sama kamu? Kayak wanita nakal nanti." >>> nggak tau atau ngga belajar atau nggak neliti dulu tentang piercing tapi langsung larang-larang.

% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

Yang manakah pacar Anda? He he he he…  *gamparrrr*

Saya benar-benar heran dengan adegan larang-melarang ini, darimana asal muasalnya, dari kapan berlangsungnya… OMF WTF!! Tapi kalau menurut ilmu perpsikologian saya (walaupun tidak belajar psikologi), asal muasal larang-melarang gini dari sifat terdalam manusia yang ingin menguasai (otoritasisme). Apalagi kalo sebelumnya orang tersebut tidak pernah merasa pny kontrol akan sesuatu, misalnya kontrol akan kehidupannya, keinginannya, dsbya. Maka saat ia merasa memiliki seseorang (baca: pacar), ia akan merasa ‘lebih’ dan secara sadar atau tidak sadar merasa punya otoritas akan si pacar tersebut.

Hal yang sama berlaku pada kasus lain, dan saya yakin semua individu yang berjalan dibumi punya keinginan seperti itu. Hanya saja kadar dan self awarenessnya berbeda. Ada orang yang bisa menahan diri dan berpikir dengan akal sehat, tapi ada juga yang langsung cingcong bikin keki pacar/lingkungannya dengan larangan nyeleneh yang dibuatnya.

Keinginan manusia untuk menguasai sudah berlangsung sejak Adam dan Hawa ada. Seks pun, sebenarnya adalah keinginan untuk menguasai pasangan. Perang, adalah keinginan untuk menguasai tempat lain. Dan pacaran, kini diindentikkan dengan keinginan untuk menguasai pikiran seseorang.

Menurut saya, "larangan" dalam pacaran jadi salah kaprah bila ditaruh ditempat yang salah. Anda tidak mungkin menaruh segelas air disebelah colokan listrik. Dalam hal ‘pacaran’, memang larangan kadang dibutuhkan (misalnya: no sex, no drugs, no WIL/PIL he he), tapi kalau larangan itu diperuntukkan untuk membatasi aktifitas atau perkembangan diri, ‘larangan’ tersebut jadi salah.

Mengapa melarang pacar yang ingin mencoba bunggee jumping, misalnya?

Mungkin sipacar takut talinya putus terus kekasihnya meninggal dengan otak berhamburan ditanah, kali. Dan ketakutan akan rasa sakit/penderitaan yang dialami orang yg kita kasihi adalah hal normal. Tetapi perlu diingat : manusia belajar seumur hidupnya. Dan dengan mencoba, saya pikir, adalah salah satu sumber manusia yang paling dasar untuk belajar.

Bukankah lebih baik untuk mengatakan, "Aku tidak setuju dengan keinginanmu itu, tapi pada akhirnya kamulah yang harus memutuskan." daripada "kamu tidak boleh melakukan itu!"

Hubungan antar manusia adalah hal yang kompleks. Jangan menyembunyikan diri dibalik alasan "tetapi saya tidak romantis" atau "tetapi saya tidak pandai bermain kata", sebab itu adalah lambang keterbatasan. Dan memang manusia terbatas pada hal-hal tertentu karena kita unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing yang tak dapat dipersalahkan secara absolut. Cara untuk mengatasi kekurangan itu adalah dengan menimbun atau ‘mengakali’nya dengan cara lain… kalau tidak pandai bermain kata, mengapa tidak praktek saja? Bukankah praktek tidak membutuhkan kata-kata, hanya gerak-gerik semata?

Untuk pacar-pacar yang masih berserakan diluar sana: pacarmu juga manusia yang punya pikiran dan perasaan. Begitu pula orang-orang disekelilingnya. Dunia tidak berputar antara kalian saja. Anda punya telinga… mengapa tidak mendengar? Anda punya hati dan nurani… mengapa tidak mempertimbangkan? Di dunia ini tidak ada yang sepenuhnya benar. Yang paling murni adalah penerimaan.

Have a great day, all!

:)

23 TAHUN

Aku ingin kamu pergi bersamaku. Aku ingin kita bisa menghilang…

Mari, pergi jauh bersamaku…

Aku ingin kamu jadi orang yang tidak bertanggung jawab demi diriku.

Sebut satu kota, satu desa, satu tujuan, dan aku sukarela mengikutimu ke ujung dunia. Aku akan menenggelamkan diri dalam air dingin, aku pasti berhenti berkhayal tinggi-tinggi, asal kamu bersedia membawaku pergi.

Aku menatapmu lekat-lekat saat kamu memulai percakapan. Satu kata yang kutahu tak berujung dikata berikutnya, melainkan melompat ke nada yang tak kumengerti. Yang kutahu ini bukan mimpi. Bukan pula delusi. Kamu nyata, senyata tanah dibawah kaki. Kalau saja kamu sadar aku berharap waktu berhenti dan kamu dibingkai oleh senja diujung mentari… Kamulah siluet terindah di dunia. Picasso akan membungkuk dan bersikeras membawamu ke Louvre! Hiduplah dimasa yang sama dan kuyakini Tolstoy pasti menulis tentang dirimu! Kamulah Mandela, Guevara, Michelangelo, Spears, dan Allen dalam dunia mungilku.

*    *     *

Kita bertemu disuatu hari yang terik saat musim kemarau mampir ke Jakarta. Langit kuning kenari, daun coklat Swiss, dan kamu patung marmer diantara desau angin yang berbisik nakal ditelingaku. Matamu almond seperti yang dibawa Ayah pulang saat aku berusia enam tahun. Kadang aku melihatnya seperti saat tengah memandang ke dalam secangkir teh hangat. Kamu tidak pernah keberatan tiap kali aku menyibak rambutmu ke atas, hanya untuk menemukan almond itu memandangku balik. Dan kamu akan mengatakan, betapa hitam mataku. Hitam seperti dasi yang kamu pakai setiap pagi.

Akulah rocker di duniamu yang dipenuhi rak buku. Aku bidadari pembunuh penat yang melingkar manja dimeja kerjamu. Aku pelayan setia dan bodoh yang mencoba menarikmu dari masa kini… Kala kita bersama, sebetulnya kita bersaing akan siapa yang harus hidup didunia yang mana… Kita sama-sama menyukainya, tergila-gila sampai nyaris gila.

"Il fait chaud aujourd’hui." adalah kalimat pertama yang kamu ucapkan padaku.

Aku pun bersumpah akan belajar bahasa Perancis.

*     *      *

Suatu pagi aku menemukanmu duduk sendirian di dapur. Hangat kopi tidak menggugahmu, dan jangankan koran hari ini menarik minatmu, langkah kakiku tidak juga kamu dengar. Beringsut ke belakang kursimu, aku mengintip dari balik bahu. Kamu tengah menulisi tepi koran dengan sebaris angka.

1965

"Tahun kamu lahir." ujarku spontan.

Kamu menoleh dan tersenyum, terkejut menemukan aku sudah berada dibelakang kursimu. Dan, yeah, kamu akan lebih terkejut lagi bila tahu seberapa sering aku mengamatimu dari belakang. Aku bahkan lebih suka bila kamu mencumbu dari belakang. Meski tiap kali aku merenungi keberadaanku yang selalu menjadi terbelakang, aku pun merasa seperti tengah dikurung sendirian dalam kandang…

"Get use to your age, Old Man. I love you, and happy birthday, Dear."

"I hate birthdays." ia protes.

Aku duduk didepannya, tertawa melihatnya menyeruput kopi cepat-cepat.

Berapa usiamu sekarang, pentingkah itu? Usia tidak mengurangi esensi kita sebagai manusia. Tanpa usia kita tetaplah jiwa-jiwa yang merana karena dimabuk asmara. Tanpa dukungan usia kita dapat menjadi dewasa, atau selamanya balita. Telanjangi embel-embel usia karena aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak butuh fakta kolot yang membuatmu jauh dariku.

Bukankah rentang usia kita dan Tuhan sejauh dua ribu tahun? Dan demi Surga dan Neraka, tidak ada yang protes kalau jatuh cinta pada pria yang lebih tua dua ribu tahun darimu! Lantas, mengapa dua dekade jadi halangan?

Karena… otak kecilku mulai menyusun argumentasi dan daftar jawaban, tapi gerakan didepanku memutus sambungan saraf motorik yang membawa kritikan ke otak bodohku.

Nous pouvons dîner cette nuit?”

"Talk in English. Atau gunakan bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan. " jawabku sambil lalu, menuang secangkir kopi untuk diriku.

Ia tersenyum sabar dari seberang meja. Makan pagi yang bisa dihitung dengan jari.

"Bonjour, Monsieur. Je parle un peu la Française.” adalah kalimat berbahasa Perancis pertama (dan nyaris satu-satunya) yang kukuasai.

*     *     *

"Selingkuhan selalu punya kualitas lebih oke. Baik dari segi fisik, maupun dilihat dari segi emosi. Lihat saja Camilla Parker-Bowles. Bisa bikin calon raja Inggris senewen selama tiga puluh tahun."

"Yang benar, selingkuhan itu tetap selingkuhan. Titik. Tidak punya kelebihan, cuma kekurangan."

"Wanita goblok, mau-maunya dibego-begoin lelaki."

"Tai kucing lha, jeng. Lihat Mayangsari dong, selingkuhannya Bambang Tri bow! Itu sih pinter namanya…."

"Seks. Pasti diselingkuhin untuk seks." Wanita terakhir dalam grup mengemukakan pendapatnya. Pendapat dan stereotipe yang membuatku kehilangan nafsu makan.

Apakah kamu mencintaiku karena seks?

*     *      *

Istrimu monoton. Aku pernah melihatnya menggandeng Titania keluar dari toko kelontong. Tapi meskipun ia ringkih, terlihat tua, dan tidak secantik yang kubayangkan, kamu toh menikahinya bertahun-tahun silam. Dan aku tahu, kamu pasti mencintainya.

Menyembunyikan diri dibalik topi usang saat istrimu melewatiku tanpa curiga, aku berkhayal seandainya akulah yang menggandeng tangan mungil Titania-mu. Aku membayangkan akulah yang melahirkan Titania-Titania lain bagimu dan memakai benda berkilau itu dijariku.

Pukul enam pagi aku akan bangun dan menyiapkan Titania ke sekolah. Pukul sembilan membersihkan rumah, mungkin memberimu dua atau tiga kecupan sebelum melepasmu pergi bekerja. Aku mungkin juga akan memasangkan dasi hitammu yang membosankan. Pukul satu siang aku menjemput Titania, mampir ke tempatmu bekerja untuk membawakan makan siang, kemudian mengajak Titania jalan-jalan membeli keperluan sehari-hari.

Life is perfect when I picturing future with you.

But for now, life is like hell.

*     *    *

Topik pembicaraan kita yang pertama adalah cuaca. Pertanyaanmu yang pertama kali kamu tanyakan adalah apakah aku bersedia berbagi payung denganmu saat hujan mendadak turun dimusim kemarau.

Tawa pertama adalah saat kita mulai menerobos hujan, mendadak langit kembali cerah. Bahkan lebih terik dari sebelumnya. Pengakuanmu yang pertama adalah saat mengatakan aku punya mata hitam yang bagus. Mata hitam paling kelam dan paling kesepian yang pernah kamu lihat, demikian kamu memberitahuku.

Ya, mungkin kita sama-sama kesepian sore itu ketika Starbucks jadi pelarian kaum hedon dan Gramedia adalah raksasa usang yang kehilangan semangat… Ciuman pertama dibalik buku Dewi Lestari, Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, halaman tujuh puluh lima. Tamparan pertama saat seberkas sinar jatuh dari lampu etalase ke jari manismu……

Mungkin kita sama-sama kesepian sore itu ketika mulut berhenti bicara dan kaki letih melangkah. Hanya tangan saling terpaut untuk kemudian meyakinkan keberadaan satu sama lain didunia, mengirim pesan yang paling ingin didengar seluruh umat manusia sejagat raya : aku membutuhkanmu.

Aku berusia enam belas tahun, dan kamu tiga puluh sembilan saat kita bertemu sore itu.

*     *     *

Bukankah aku perempuan yang baik? Aku ingin kamu pergi bersamaku, aku ingin kita bisa menghilang. Aku ingin kamu jadi orang yang tidak bertanggung jawab demi diriku, tapi aku tidak mengatakan apa-apa kepadamu. Seyakin apapun diriku aku tidak pernah punya kepercayaan diri cukup besar karena aku terlambat bertahun-tahun dari nama orang yang terukir dibalik batu dijarimu..

Kadang aku berpikir, andai saja kamu menunggu, lima belas tahun lebih lama… Kamu tidak akan terjebak dalam situasi ini, aku tidak akan tersembunyi dibalik bayangan. Kalau saja kamu menungguku, kita akan melewatkan hari membicarakan pikiranmu dan pikiranku. Aku akan bangun disisimu, membangunkanmu dengan ciuman dipipi dan kamu setengah sadar mengoceh dalam bahasa Perancis.

Bukankah aku perempuan yang baik?

Aku ingin kamu pergi bersamaku, tapi tidak pernah kukatakan.

Aku tahu yang kamu butuhkan hanyalah teman bicara. Sentuhan, ciuman, dan seks hanyalah bonus bila aku jadi anak baik.

*      *     *

I wait ’till I saw the sun, don’t know why I didn’t come

Left you by the house of fun, don’t know why I didn’t come..

When I saw the break of day, wish that I could fly away

Standing in the endless sand, catching tear drops in my hand…

My heart is drenched in wine; you’ll be on my mind forever…

I’ll cross the endless sea, I’d die in ecstasy

But I’d be a bag of bones, driving the road alone

My heart is drenched in wine, you beyond my mind forever…

Something has to make it right

Don’t know why I didn’t come

Feel as empty as a drum, don’t know why I didn’t come…

*    *     *

Aku bermimpi bertemu dirimu yang lebih muda.

Dalam mimpiku itu kamu duduk sendirian disebuah kelas, disuatu sore yang terik saat musim kemarau, diantara puluhan kursi kosong yang berjejer rapi.

Kamu menunduk tanpa mengacuhkan panas matahari yang menyelinap lewat birai jendela. Sebuah buku terbuka dihadapanmu tapi aku tahu pikiranmu tidak disana. Kamu tengah memikirkan hal lain dengan kerut tipis itu membayang dipinggir matamu. Mata yang menangkap kilau secangkir teh hangat dalam cangkang almond.

Aku berdiri tiga meter dari tempat dudukmu. Cahaya sore membuat kulitmu berkilau keemasan, rambutmu acak dimainkan tangan kasat mata. Kamu tetap duduk tenang tak terusik, tidak terganggu oleh suara-suara yang mungkin terdengar. Aku berada cukup lama disana, atau setidaknya aku merasa demikian, saat aku menyadari justru inilah yang disebut keabadian itu. Momen dimana kerongkongan terasa kering dan paru-paru mengempis minta udara. Bukan karena cinta pada pandangan pertama, bukan pula karena perpisahan penuh air mata, melainkan detik yang berlalu saat tengah memandang…… dia.

Angin menyibak korden, membalik halaman-halaman bukunya, dan aku berbisik, tunggu aku, dua puluh tiga tahun lagi…

Perlahan-lahan, seakan dalam gerakan sloooowww… moootiooooonn… kamu mengangkat kepala dan menoleh ketempatku berada. Tetapi matamu tidak dapat menangkap hadirku. Mungkin hanya sentuhan angin yang sekedar mengganggu benakmu…

Tahun 1988 akan segera tiba.

Tunggulah aku dua puluh tiga tahun, kemudian enam belas tahun lagi, dan di Milenium baru kita akan bertemu disuatu hari yang terik saat musim kemarau mampir ke Jakarta. Langit kuning kenari, daun coklat Swiss, dan kamu patung marmer diantara desau angin yang berbisik nakal ditelingaku. Matamu almond seperti yang dibawa pulang Ayah saat aku berusia enam tahun.

Akulah rocker diduniamu yang dipenuhi rak buku. Akulah bidadari pembunuh penat yang melingkar manja dimeja kerjamu. Akulah orang yang akan mengenakan batu penangkap cahaya itu dijariku dan memakaikan dasi hitammu dipagi hari.

Kamu akan mengatakan "Il fait chaud aujourd’hui" untuk pertama kalinya, dan aku bersumpah akan belajar bahasa Perancis…….

*     *     *

*     *

*

xoxo diselesaikan dengan ketakutan absolut saat menanti usia 20 tahun dalam 36 jam xoxo

*

*     *

Older Posts »