Aku ingin kamu pergi bersamaku. Aku ingin kita bisa menghilang…
Mari, pergi jauh bersamaku…
Aku ingin kamu jadi orang yang tidak bertanggung jawab demi diriku.
Sebut satu kota, satu desa, satu tujuan, dan aku sukarela mengikutimu ke ujung dunia. Aku akan menenggelamkan diri dalam air dingin, aku pasti berhenti berkhayal tinggi-tinggi, asal kamu bersedia membawaku pergi.
Aku menatapmu lekat-lekat saat kamu memulai percakapan. Satu kata yang kutahu tak berujung dikata berikutnya, melainkan melompat ke nada yang tak kumengerti. Yang kutahu ini bukan mimpi. Bukan pula delusi. Kamu nyata, senyata tanah dibawah kaki. Kalau saja kamu sadar aku berharap waktu berhenti dan kamu dibingkai oleh senja diujung mentari… Kamulah siluet terindah di dunia. Picasso akan membungkuk dan bersikeras membawamu ke Louvre! Hiduplah dimasa yang sama dan kuyakini Tolstoy pasti menulis tentang dirimu! Kamulah Mandela, Guevara, Michelangelo, Spears, dan Allen dalam dunia mungilku.
* * *
Kita bertemu disuatu hari yang terik saat musim kemarau mampir ke Jakarta. Langit kuning kenari, daun coklat Swiss, dan kamu patung marmer diantara desau angin yang berbisik nakal ditelingaku. Matamu almond seperti yang dibawa Ayah pulang saat aku berusia enam tahun. Kadang aku melihatnya seperti saat tengah memandang ke dalam secangkir teh hangat. Kamu tidak pernah keberatan tiap kali aku menyibak rambutmu ke atas, hanya untuk menemukan almond itu memandangku balik. Dan kamu akan mengatakan, betapa hitam mataku. Hitam seperti dasi yang kamu pakai setiap pagi.
Akulah rocker di duniamu yang dipenuhi rak buku. Aku bidadari pembunuh penat yang melingkar manja dimeja kerjamu. Aku pelayan setia dan bodoh yang mencoba menarikmu dari masa kini… Kala kita bersama, sebetulnya kita bersaing akan siapa yang harus hidup didunia yang mana… Kita sama-sama menyukainya, tergila-gila sampai nyaris gila.
"Il fait chaud aujourd’hui." adalah kalimat pertama yang kamu ucapkan padaku.
Aku pun bersumpah akan belajar bahasa Perancis.
* * *
Suatu pagi aku menemukanmu duduk sendirian di dapur. Hangat kopi tidak menggugahmu, dan jangankan koran hari ini menarik minatmu, langkah kakiku tidak juga kamu dengar. Beringsut ke belakang kursimu, aku mengintip dari balik bahu. Kamu tengah menulisi tepi koran dengan sebaris angka.
1965
"Tahun kamu lahir." ujarku spontan.
Kamu menoleh dan tersenyum, terkejut menemukan aku sudah berada dibelakang kursimu. Dan, yeah, kamu akan lebih terkejut lagi bila tahu seberapa sering aku mengamatimu dari belakang. Aku bahkan lebih suka bila kamu mencumbu dari belakang. Meski tiap kali aku merenungi keberadaanku yang selalu menjadi terbelakang, aku pun merasa seperti tengah dikurung sendirian dalam kandang…
"Get use to your age, Old Man. I love you, and happy birthday, Dear."
"I hate birthdays." ia protes.
Aku duduk didepannya, tertawa melihatnya menyeruput kopi cepat-cepat.
Berapa usiamu sekarang, pentingkah itu? Usia tidak mengurangi esensi kita sebagai manusia. Tanpa usia kita tetaplah jiwa-jiwa yang merana karena dimabuk asmara. Tanpa dukungan usia kita dapat menjadi dewasa, atau selamanya balita. Telanjangi embel-embel usia karena aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak butuh fakta kolot yang membuatmu jauh dariku.
Bukankah rentang usia kita dan Tuhan sejauh dua ribu tahun? Dan demi Surga dan Neraka, tidak ada yang protes kalau jatuh cinta pada pria yang lebih tua dua ribu tahun darimu! Lantas, mengapa dua dekade jadi halangan?
Karena… otak kecilku mulai menyusun argumentasi dan daftar jawaban, tapi gerakan didepanku memutus sambungan saraf motorik yang membawa kritikan ke otak bodohku.
“Nous pouvons dîner cette nuit?”
"Talk in English. Atau gunakan bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan. " jawabku sambil lalu, menuang secangkir kopi untuk diriku.
Ia tersenyum sabar dari seberang meja. Makan pagi yang bisa dihitung dengan jari.
"Bonjour, Monsieur. Je parle un peu la Française.” adalah kalimat berbahasa Perancis pertama (dan nyaris satu-satunya) yang kukuasai.
* * *
"Selingkuhan selalu punya kualitas lebih oke. Baik dari segi fisik, maupun dilihat dari segi emosi. Lihat saja Camilla Parker-Bowles. Bisa bikin calon raja Inggris senewen selama tiga puluh tahun."
"Yang benar, selingkuhan itu tetap selingkuhan. Titik. Tidak punya kelebihan, cuma kekurangan."
"Wanita goblok, mau-maunya dibego-begoin lelaki."
"Tai kucing lha, jeng. Lihat Mayangsari dong, selingkuhannya Bambang Tri bow! Itu sih pinter namanya…."
"Seks. Pasti diselingkuhin untuk seks." Wanita terakhir dalam grup mengemukakan pendapatnya. Pendapat dan stereotipe yang membuatku kehilangan nafsu makan.
Apakah kamu mencintaiku karena seks?
* * *
Istrimu monoton. Aku pernah melihatnya menggandeng Titania keluar dari toko kelontong. Tapi meskipun ia ringkih, terlihat tua, dan tidak secantik yang kubayangkan, kamu toh menikahinya bertahun-tahun silam. Dan aku tahu, kamu pasti mencintainya.
Menyembunyikan diri dibalik topi usang saat istrimu melewatiku tanpa curiga, aku berkhayal seandainya akulah yang menggandeng tangan mungil Titania-mu. Aku membayangkan akulah yang melahirkan Titania-Titania lain bagimu dan memakai benda berkilau itu dijariku.
Pukul enam pagi aku akan bangun dan menyiapkan Titania ke sekolah. Pukul sembilan membersihkan rumah, mungkin memberimu dua atau tiga kecupan sebelum melepasmu pergi bekerja. Aku mungkin juga akan memasangkan dasi hitammu yang membosankan. Pukul satu siang aku menjemput Titania, mampir ke tempatmu bekerja untuk membawakan makan siang, kemudian mengajak Titania jalan-jalan membeli keperluan sehari-hari.
Life is perfect when I picturing future with you.
But for now, life is like hell.
* * *
Topik pembicaraan kita yang pertama adalah cuaca. Pertanyaanmu yang pertama kali kamu tanyakan adalah apakah aku bersedia berbagi payung denganmu saat hujan mendadak turun dimusim kemarau.
Tawa pertama adalah saat kita mulai menerobos hujan, mendadak langit kembali cerah. Bahkan lebih terik dari sebelumnya. Pengakuanmu yang pertama adalah saat mengatakan aku punya mata hitam yang bagus. Mata hitam paling kelam dan paling kesepian yang pernah kamu lihat, demikian kamu memberitahuku.
Ya, mungkin kita sama-sama kesepian sore itu ketika Starbucks jadi pelarian kaum hedon dan Gramedia adalah raksasa usang yang kehilangan semangat… Ciuman pertama dibalik buku Dewi Lestari, Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, halaman tujuh puluh lima. Tamparan pertama saat seberkas sinar jatuh dari lampu etalase ke jari manismu……
Mungkin kita sama-sama kesepian sore itu ketika mulut berhenti bicara dan kaki letih melangkah. Hanya tangan saling terpaut untuk kemudian meyakinkan keberadaan satu sama lain didunia, mengirim pesan yang paling ingin didengar seluruh umat manusia sejagat raya : aku membutuhkanmu.
Aku berusia enam belas tahun, dan kamu tiga puluh sembilan saat kita bertemu sore itu.
* * *
Bukankah aku perempuan yang baik? Aku ingin kamu pergi bersamaku, aku ingin kita bisa menghilang. Aku ingin kamu jadi orang yang tidak bertanggung jawab demi diriku, tapi aku tidak mengatakan apa-apa kepadamu. Seyakin apapun diriku aku tidak pernah punya kepercayaan diri cukup besar karena aku terlambat bertahun-tahun dari nama orang yang terukir dibalik batu dijarimu..
Kadang aku berpikir, andai saja kamu menunggu, lima belas tahun lebih lama… Kamu tidak akan terjebak dalam situasi ini, aku tidak akan tersembunyi dibalik bayangan. Kalau saja kamu menungguku, kita akan melewatkan hari membicarakan pikiranmu dan pikiranku. Aku akan bangun disisimu, membangunkanmu dengan ciuman dipipi dan kamu setengah sadar mengoceh dalam bahasa Perancis.
Bukankah aku perempuan yang baik?
Aku ingin kamu pergi bersamaku, tapi tidak pernah kukatakan.
Aku tahu yang kamu butuhkan hanyalah teman bicara. Sentuhan, ciuman, dan seks hanyalah bonus bila aku jadi anak baik.
* * *
I wait ’till I saw the sun, don’t know why I didn’t come
Left you by the house of fun, don’t know why I didn’t come..
When I saw the break of day, wish that I could fly away
Standing in the endless sand, catching tear drops in my hand…
My heart is drenched in wine; you’ll be on my mind forever…
I’ll cross the endless sea, I’d die in ecstasy
But I’d be a bag of bones, driving the road alone
My heart is drenched in wine, you beyond my mind forever…
Something has to make it right
Don’t know why I didn’t come
Feel as empty as a drum, don’t know why I didn’t come…
* * *
Aku bermimpi bertemu dirimu yang lebih muda.
Dalam mimpiku itu kamu duduk sendirian disebuah kelas, disuatu sore yang terik saat musim kemarau, diantara puluhan kursi kosong yang berjejer rapi.
Kamu menunduk tanpa mengacuhkan panas matahari yang menyelinap lewat birai jendela. Sebuah buku terbuka dihadapanmu tapi aku tahu pikiranmu tidak disana. Kamu tengah memikirkan hal lain dengan kerut tipis itu membayang dipinggir matamu. Mata yang menangkap kilau secangkir teh hangat dalam cangkang almond.
Aku berdiri tiga meter dari tempat dudukmu. Cahaya sore membuat kulitmu berkilau keemasan, rambutmu acak dimainkan tangan kasat mata. Kamu tetap duduk tenang tak terusik, tidak terganggu oleh suara-suara yang mungkin terdengar. Aku berada cukup lama disana, atau setidaknya aku merasa demikian, saat aku menyadari justru inilah yang disebut keabadian itu. Momen dimana kerongkongan terasa kering dan paru-paru mengempis minta udara. Bukan karena cinta pada pandangan pertama, bukan pula karena perpisahan penuh air mata, melainkan detik yang berlalu saat tengah memandang…… dia.
Angin menyibak korden, membalik halaman-halaman bukunya, dan aku berbisik, tunggu aku, dua puluh tiga tahun lagi…
Perlahan-lahan, seakan dalam gerakan sloooowww… moootiooooonn… kamu mengangkat kepala dan menoleh ketempatku berada. Tetapi matamu tidak dapat menangkap hadirku. Mungkin hanya sentuhan angin yang sekedar mengganggu benakmu…
Tahun 1988 akan segera tiba.
Tunggulah aku dua puluh tiga tahun, kemudian enam belas tahun lagi, dan di Milenium baru kita akan bertemu disuatu hari yang terik saat musim kemarau mampir ke Jakarta. Langit kuning kenari, daun coklat Swiss, dan kamu patung marmer diantara desau angin yang berbisik nakal ditelingaku. Matamu almond seperti yang dibawa pulang Ayah saat aku berusia enam tahun.
Akulah rocker diduniamu yang dipenuhi rak buku. Akulah bidadari pembunuh penat yang melingkar manja dimeja kerjamu. Akulah orang yang akan mengenakan batu penangkap cahaya itu dijariku dan memakaikan dasi hitammu dipagi hari.
Kamu akan mengatakan "Il fait chaud aujourd’hui" untuk pertama kalinya, dan aku bersumpah akan belajar bahasa Perancis…….
* * *
* *
*
xoxo diselesaikan dengan ketakutan absolut saat menanti usia 20 tahun dalam 36 jam xoxo
*
* *